Tuhan Yesus menyatakan tujuan penciptaan manusia dengan jelas dalam Kejadian 1 ayat 28. Dalam ayat Alkitab itu, disebutkan pula bahwa penciptaan tersebut berkaitan dengan pengelolaan alam semesta. Sekadar informasi, Kejadian 1 merupakan pasal pertama dalam Perjanjian Lama Alkitab. Pasal tersebut memuat kisah penciptaan dunia dalam enam hari.
101: Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka. 10:2: Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras. 10:3: Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat dan Togarma. 10:4: Keturunan Yawan ialah Elisa, Tarsis, orang Kitim dan orang Dodanim. 10:5
Teks -- Kejadian 1:1-24 (TB) Tampilkan Strong. Konteks. Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya. 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi . 1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 1:3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang ."
Kejadian 37:2, 5–8. Gambar. Yusuf menguraikan mimpi tentang bintang-bintang. Kemudian, Yusuf mempunyai mimpi terilhami lainnya. Dalam mimpi ini, matahari, bulan
Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu.
Setelah belajar perikop Keturunan Adam, sekarang kita belajar perikop Kejahatan Manusia. Pada perikop ini kita akan melihat beberapa tafsiran mengenai anak-anak Allah yang kawin dengan anak-anak perempuan manusia. Ada yang bilang itu keturunan Set yang saleh kawin dengan keturunan Kain yang fasik. Juga ada yang bilang itu makhluk surgawi mengawini orang di bumi. Juga tafsiran mengenai Roh Allah yang tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia. Berikut ini tampilan ayat-ayat Firman Tuhan dalam kitab Kejadian Genesis 61 - 8 dengan judul perikop Kejahatan Manusia. Kita belajar perikop Kejahatan Manusia ini dengan menggunakan tafsiran / catatan Wycliffe. Semua ayat dikutip dalam bentuk tulisan italic warna biru, sedangkan tafsiran / komentar dalam tulisan biasa. Ayat Akitab dikutip dari software e-Sword, sedangkan komentarinya dari situs Yuk kita Manusia Kitab Kejadian 61-8 Gen 61 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, Gen 62 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Anak-anak Allah benê Elõhîm ... anak-anak perempuan manusia. Kejahatan makin meningkat di semua bidang. Keturunan Kain menjadi makin tidak bertuhan dan kafir. Sebuah bangsa raksasa yang dinamakan "Nefilim" menjadi terkenal. Kata kerja nãpal, "jatuh," dianggap sebagai sumber dari kata benda ini sehingga makhluk-makhluk besar itu dilihat sebagai "orang-orang yang terjatuh." Sebutan benê Elõhîm telah menimbulkan beragam pandangan di kalangan para sarjana. Elõhîm berbentuk jamak. Pada umumnya diterjemahkan menjadi Allah. Namun kata ini juga bisa diterjemahkan menjadi "dewa-dewa," seperti misalnya ketika mengacu kepada dewa-dewa kafir tetangga Israel. Kata ini juga bisa berarti kalangan wujud surgawi yang akrab bersekutu dengan Yehovah, penduduk surga yang memiliki tugas khusus sebagai asisten Allah lih. Ayb. 16. Di dalam beberapa kasus tertentu di dalam Alkitab "anak-anak Allah" dapat diidentifikasi sebagai "malaikat" atau "utusan." Yesus adalah Anak Allah dalam arti yang unik. Orang-orang percaya disebut "anak-anak Allah" karena hubungan mereka dengan Dia. Sekalipun demikian, di dalam Perjanjian Lama, "anak-anak Allah" adalah kelompok makhluk khusus yang merupakan makhluk-makhluk surgawi. Ayat mengenai perkawinan benê Elõhîm dengan anak-anak perempuan manusia telah dijelaskan dengan berbagai cara. Menerjemahkannya secara harfiah akan menghasilkan pernyataan bahwa anggota masyarakat surgawi memilih perempuan-perempuan terpilih dari bumi untuk dinikahi secara sesungguhnya. Ini dapat merupakan satu-satunya penafsiran dari Ayub 16. Di ayat tersebut benê Elõhîm jelas merupakan anggota makhluk-makhluk surgawi milik Allah. S. R. Driver bersikukuh bahwa inilah satu-satunya pengertian yang sah dan tepat yang dapat diterima. Jawaban Yesus kepada orang Saduki, di Matius 2230, tampaknya menjadikan pandangan ini tidak mungkin. Dia mengatakan bahwa malaikat "tidak kawin dan tidak dikawinkan." Pernyataan dalam Kejadian 62 dengan jelas menyebutkan bahwa yang dimaksudkan adalah pernikahan yang permanen. Sejumlah perempuan dipilih dan dipaksa untuk menjadi bagian dalam hubungan yang tidak wajar tersebut. Para penelaah Alkitab yang menolak gagasan ini berusaha untuk menerangkannya dengan cara yang lain. Beberapa di antaranya mengatakan bahwa yang dikemukakan adalah persekutuan di antara keturunan Set yang saleh dengan keturunan Kain yang fasik. Lainnya lagi beranggapan bahwa kata-kata ini mengacu kepada pernikahan di antara orang-orang kelas atas dalam masyarakat dengan orang dari kalangan yang lebih rendah. Mengingat fakta-fakta yang ada dan penerjemahan yang tepat dari nas, kami berkesimpulan bahwa beberapa orang laki-laki dari kalangan surgawi malaikat atau utusan benar-benar beristrikan perempuan bumi. Mereka memakai kekuatan lebih besar untuk memaksa perempuan-perempuan tersebut mengikuti kehendak mereka. "Anak-anak Allah" itu tidak bisa dilawan bdg. II Ptr. 24; Yud. 6. Gen 63 Berfirmanlah TUHAN "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." Roh rûah-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal yãdôn di dalam manusia. Kata kerja Ibrani ini dapat diterjemahkan menjadi berusaha bersama atau tinggal di dalam. Terjemahan pertama akan menampilkan Allah sebagai terus-menerus memakai kekuatan terhadap manusia pemberontak untuk mencegahnya agar tidak ke luar batas dan untuk menjaganya dari kehancuran menyeluruh akibat perilakunya yang penuh dosa. Pandangan kedua akan menampilkan Allah sebagai berniat untuk menarik kembali napas kehidupan yang vital dari manusia sehingga, tentu saja, mengakibatkan kematian. Kata Ibrani dûn atau dîn menunjuk kepada kehidupan yang terungkap dalam tindakan atau dalam fakta-fakta berupa kekuatan. Menurut penafsiran pertama, roh rûah dipahami sebagai prinsip etika yang membatasi atau mengendalikan makhluk ciptaan, yang menghasilkan perilaku etis. Menurut penafsiran kedua, roh rûah dipahami sebagai prinsip vital yang diberikan kepada segumpal tanah liat yang mati agar menjadi hidup, bermotivasi dan memiliki kekuatan. Pada saat rûah tersebut diambil oleh tangan ilahi, lengkap sudah hukuman atas manusia. Pernyataan ilahi ini diutarakan oleh Yehovah ketika Dia menjumpai makhluk-makhluk ciptaan-Nya dikuasai oleh dosa. Allahlah yang menyatakan bahwa Ia harus meninggalkan manusia untuk mengalami kematian. Dosa telah menggerakkan kekuatan yang menghasilkan kematian. Gen 64 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. Gen 65 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, Gen 66 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Kejahatan ra'at ... menyesal nãham . . memilukan ãsãb. Kemerosotan moral sudah menyebar luas. Kemerosotan itu bersifat batiniah, berkesinambungan dan sudah menjadi kebiasaan. Manusia rusak sepenuhnya, buruk hati dan perilakunya. Tidak ada yang baik di dalam dirinya. Seluruh kecenderungan hati dan pikirannya sama sekali di luar kehendak Yehovah. Manusia bertakhta. Allah dilupakan atau ditentang secara terang-terangan. Nãham dalam bentuk niphal melukiskan kasih Allah yang telah menderita kekecewaan yang mengenaskan. Secara harfiah, yang dimaksudkan ialah menarik napas panjang dalam penderitaan yang amat mendalam. Semua maksud dan rencana Allah telah gagal untuk menghasilkan buah yang berharga sebagaimana yang Ia harapkan, sebab dicegah oleh manusia berdosa. Ãsãb dalam bentuk hithpael berarti tertusuk atau mengalami penusukan. Dengan demikian, pernyataan ini mengatakan bahwa Allah mengalami kepedihan yang menusuk hati-Nya menyaksikan kemerosotan moral tragis yang dihasilkan dosa. Pekerjaan tangan-Nya telah dicemarkan dan dihancurkan. Melalui itu semua, kasih Allah bersinar dengan cemerlang bahkan ketika gemuruh hukuman ilahi mulai mengancam manusia di bumi. Gen 67 Berfirmanlah TUHAN "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Menghapuskan mahâ; menghancurkan. Kata kerja ini menunjuk kepada suatu gerakan yang menghapuskan atau memusnahkan secara menyeluruh. Tindakan ini dirancang untuk menghancurkan setiap makhluk hidup yang menghalangi. Penghancuran menyeluruh akan dilaksanakan. Tidak ada yang akan dikecualikan. Gen 68 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia hèn. Di antara sekian banyak orang yang tidak terhitung di bumi hanya satu orang yang layak untuk menerima kasih karunia Allah. Kata kasih karunia setidak-tidaknya pasti berarti "perkenan" atau "penerimaan," dan mungkin mengandung makna yang lebih kaya. Kasih karunia merupakan wujud dari kasih dan kemurahan. Penganugerahan kasih karunia Allah kepada Nuh menunjukkan bahwa pada hari-hari yang akan datang ada kehidupan dan harapan yang baru bagi umat manusia. Perikop selanjutnya Riwayat Nuh, seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Lihat Daftar Perikop Kitab Kejadian.
Kejadian 61-8 adalah salah satu cerita paling terkenal dalam Alkitab. Cerita ini menceritakan tentang banjir besar yang menghancurkan dunia pada masa Nuh. Cerita ini juga memiliki makna spiritual yang dalam, yang mengajarkan tentang kepercayaan, kesetiaan, dan keadilan. Mari kita pelajari lebih lanjut tentang tafsiran dari Kejadian 61-8. Kejadian 61-2 Orang-orang Mulai Memperkosa Kehendak Allah Pada saat itu, dunia dipenuhi dengan kejahatan dan kekerasan. Orang-orang mulai memperkosa kehendak Allah, melakukan dosa dan menolak untuk bertobat. Pada saat itu, anak-anak Allah mulai menikahi anak-anak manusia yang tidak taat. Hal ini menyebabkan dunia semakin rusak dan jauh dari kehendak Allah. Kejadian 63 Allah Memberikan Peringatan kepada Manusia Allah memberikan peringatan kepada manusia bahwa waktu mereka di dunia ini sudah hampir habis. Allah memberikan waktu 120 tahun kepada manusia untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Namun, kebanyakan manusia tetap menolak untuk mendengarkan peringatan Allah. Kejadian 64-5 Manusia Terus Berdosa dan Menolak untuk Bertobat Walaupun telah diberi peringatan, manusia tetap terus berdosa dan menolak untuk bertobat. Mereka tetap melakukan kejahatan dan kekerasan, membuat dunia semakin rusak. Karena itu, Allah memutuskan untuk memberikan hukuman yang adil, yaitu banjir besar yang akan menghancurkan dunia. Kejadian 66-7 Allah Menyesal Telah Menciptakan Manusia Saat itu, hati Allah penuh dengan kesedihan dan penyesalan karena manusia yang telah diciptakan-Nya melakukan kejahatan dan menolak untuk bertobat. Allah merasa bahwa Ia telah membuat kesalahan dalam menciptakan manusia. Namun, Allah tidak kecewa dan tetap berencana untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya. Kejadian 68 Nuh Menemukan Kasih Karunia di Mata Allah Meskipun manusia di dunia itu telah berdosa dan menolak untuk bertobat, Nuh tetap setia kepada Allah. Allah melihat kepercayaan dan kesetiaan Nuh dan memberinya kasih karunia. Allah memilih Nuh dan keluarganya untuk diselamatkan dari banjir besar yang akan datang. Kejadian 69 Nuh Adalah Seorang yang Saleh dan Setia kepada Allah Nuh adalah seorang yang saleh dan setia kepada Allah. Ia hidup dengan cara yang benar dan taat kepada kehendak Allah. Karena itu, Allah memilih Nuh untuk menjadi penyelamat bagi umat manusia dan hewan-hewan di bumi. Kejadian 610-11 Allah Memerintahkan Nuh untuk Membuat Bahtera Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera yang besar dan kuat untuk menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan hewan-hewan di bumi dari banjir besar yang akan datang. Nuh taat kepada perintah Allah dan dengan tekun membuat bahtera tersebut. Kejadian 612-14 Bahtera Nuh Siap untuk Menghadapi Banjir Besar Setelah Nuh menyelesaikan bahtera tersebut, ia memenuhi perintah Allah untuk mengumpulkan hewan-hewan di bumi dan memasukkannya ke dalam bahtera. Bahtera Nuh siap untuk menghadapi banjir besar yang akan datang. Saat banjir besar datang, semua yang hidup di bumi, kecuali Nuh dan keluarganya beserta hewan-hewan dalam bahtera, hancur dan mati. Banjir besar itu menghancurkan dunia seperti yang dikatakan dalam Kejadian 617. Kejadian 618-22 Nuh dan Keluarganya Diselamatkan dari Banjir Besar Karena kepercayaan dan kesetiaannya kepada Allah, Nuh dan keluarganya diselamatkan dari banjir besar tersebut. Setelah banjir mereda, Nuh dan keluarganya membuka pintu bahtera dan memulai kehidupan baru di bumi yang baru. Konklusi Pelajaran Penting dari Kisah Banjir Besar dalam Kejadian 61-8 Kisah banjir besar dalam Kejadian 61-8 mengajarkan kita beberapa pelajaran penting. Pertama, Allah mencintai kesetiaan dan kepercayaan kita kepada-Nya. Kedua, Allah selalu memberikan peringatan kepada kita dan memberi kesempatan untuk bertobat. Ketiga, Allah memberikan hukuman yang adil kepada mereka yang menolak untuk bertobat. Keempat, Allah selalu memberikan kasih karunia kepada mereka yang taat kepada-Nya. Kelima, Allah selalu menepati janji-Nya dan menyelamatkan orang-orang yang setia kepada-Nya.
Mengimani Allah berarti mengambil keputusan untuk memilih antara hidup bergaul dengan Allah atau hidup dalam dosa. Taat kepada Allah atau melawan Allah. Terang atau gelap. Hitam atau putih. Dalam hal beriman tidak ada wilayah abu – abu, karena Allah tidak kompromi dengan dosa. Kejadian 61-8 yang menjadi bagian pembacaan Alkitab bagi kita hari ini mengisahkan tentang kejahatan manusia karena manusia yang memilih untuk tidak taat. Kehidupan manusia menjadi rusak karena pilihan manusia sendiri. Padahal ketika Allah menciptakan langit dan bumi dalam Kejadian 1, setiap karya penciptaan Allah selalu diakhiri dengan sebuah kesimpulan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Kejadian 110,12,18,21,25. Terlebih manusia yang dijadikan segambar dan serupa dengan Allah. Manusia menjadi makhluk termulia dan puncak seluruh penciptaan Allah. Manusia bahkan diberi kuasa untuk mengusahakan dan memelihara alam ciptaan Allah. Allah menjadikan manusia dalam keberadaan sungguh amat baik Kej. 131. Tentunya, Allah mengharapkan manusia hidup secara baik sesuai maksud Allah. Tetapi manusia ternyata jatuh ke dalam dosa karena tergoda dan memilih tidak taat kepada perintah Allah Kejadian 3. Akibatnya Allah menghalau manusia dari hadapanNya. Dan yang sangat memprihatinkan adalah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa tetap memilih hidup dalam dosa. Dosa menjadi candu yang meracuni dan merusak hidup manusia. Dalam pembacaan kita ini digambarkan betapa manusia mulai bertambah jumlahnya tetapi juga manusia terus menerus hidup dalam dosa dan kejahatan semakin bertambah. Anak – anak Allah yang mestinya hidup dalam ketaatan kepada Allah justru tergoda dengan anak – anak perempuan manusia yang hidup dalam dosa. Ketika anak – anak Allah melihat kecantikan para perempuan manusia, mereka mengambil para perempuan itu sebagai istrinya, siapa saja yang mereka sukai. Model perkawinan yang dibangun secara sembarangan dan karena keinginan nafsu birahi, telah melahirkan anak-anak yang disebut pada ayat 4, orang-orang yang gagah perkasa dan gagah berani, namun perkasa dan berani untuk melakukan kejahatan. Allah dilupakan atau ditentang secara terang-terangan. Kejahatan manusia semakin besar di bumi. Kata “kejahatan” diterjemahkan dari kata Ibrani “ra” yang menunjuk kepada tingkah laku yang tidak diperkenankan oleh Tuhan. Pekerjaan tangan Allah telah dicemarkan manusia. Gambar Allah itu telah dihancurkan oleh karena dosa. Betapa besarnya kejahatan manusia sehingga disebutkan pada ayat 6 bahwa Allah menyesal telah menjadikan manusia. Kata “menyesal” dalam teks ini memiliki pengertian bahwa Allah menjadi sedih dan tersakiti oeh karena dosa yang telah dan tengah diperbuat oleh umat-Nya. Dan kesedihan atau kesakitan yang dialami oleh Allah itu disebabkan oleh dosa manusia yang memperburuk dan merusakkan gambar Allah. Di tengah situasi dan kondisi yang penuh dengan kejahatan, Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Nuh hidup bergaul dengan Tuhan. Nuh tidak ikut arus zaman itu, meskipun arus dan godaan kejahatan begitu besar. Nuh tetap hidup benar di mata Tuhan. Melalui Nuh maka peradaban dan kelangsungan manusia dipulihkan kembali oleh Allah. Allah menghukum manusia yang hidup penuh kejahatan dan dosa dengan cara menghapuskan manusia dari muka bumi melalui air bah. Tetapi Nuh dihormati Allah karena ia hidup bergaul dengan Allah. Siapa yang bergaul dengan Allah tidak akan terhapus dari hadapan Tuhan, tetapi siapa yang hidup melawan Allah dan menikmati kubangan dosa akan dihapuskan hidupnya oleh Tuhan. Di dalam Kristus kita sudah memperoleh kasih karunia Allah. Sehingga kita diselamatkan dari dosa. Tapi sayangnya masih ada orang Kristen yang tetap menyukai dosa. Dalam Kejadian 6 ini, sifat dosa manusia dengan terang-terangan ditunjukkan dalam dua hal utama nafsu seksual ayat 2 dan kekerasan ayat 11. Sampai sekarang arus dosa itu malah semakin hebat dan kuat. Kebejatan manusia tidak berubah; nafsu dan kekerasan seolah - oleh menjadi trend. Perilaku amoral, kefasikan, pornografi, dan kekerasan menguasai masyarakat kita tanpa memandang usia. Dan kita masih terlalu menikmati dosa – dosa itu ibarat babi yang selalu asyik menikmati kubangan lumpur. Domba dan babi memang sama – sama hewan tetapi keduanya memiliki tabiat yang sangat berbeda. Jika domba jatuh ke dalam kubangan lumpur maka secara spontan ia akan berusaha keluar dari kubangan lumpur itu karena domba adalah binatang yang tidak suka dengan hal yang kotor. Berbeda dengan babi. Babi kalau jatuh ke dalam kubangan Lumpur. Justru makin asyik menikmati kubangan Lumpur itu dan tidak berinisiatif untuk ke luar dari kubangan lumpur karena memang babi adalah binatang yang suka dengan kubangan lumpur yang kotor. Simbol bagi kita sebagai gereja adalah Domba dan bukan Babi. Kita bisa jatuh ke dalam dosa tetapi mesti segera bangkit dan bertobat dari dosa. Jangan meniru kelakuan Babi yang selalu menikmati dosa, menganggap dosa biasa – biasa saja dan tetap terikat dalam belenggu dosa miras, narkoba, seks bebas, candu digital, dan mengabaikan Tuhan. Ingatlah saudaraku, murka Tuhan menghukum manusia dapat terjadi kapan dan dimana saja bagi mereka yang melakukan kesalahan dan dosa, terutama dosa karena tidak dapat menempatkan diri sebagai anak-anak Allah di tengah kehidupan duniawi yang jahat. Oleh sebab itu hari ini kita diperhadapkan pada pilihan iman. Manakah yang kita pilih hidup taat atau melawan ? Menjadi Terang atau menikmati Gelap ? Beroleh hukuman atau mendapat kasih karunia? Bila kita sudah mendapatkan kasih karunia dalam Kristus, marilah memelihara iman dengan hidup berkenan kepada Allah meskipun kita berada di tengah – tengah angkatan yang bengkok hatinya. Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.
tafsiran kejadian 6 1 8